Motor Milik Seorang Mahasiswa Unja Diduga Di Rampas Kolektor MCF MAF Tebo Jambi Dengan Cara Di Tipu

Oplus_16908288

GSI.COM//JAMBI- Karnologis Dan Kejadian Yang Di Liput Oleh Tim Investigasi Media Gempar Sumatera Indonesia. Dari Mahasiswa UNJA, Telah Memberi Keterangan, Langsung'”

Yaitu: Saya adalah mahasiswa Unja yang sedang mengerjakan tugas kerja kelompok di Kota Baru, Jambi, Tugas kami adalah mewawancarai pedagang agroindustri untuk mencari ide bisnis”

Kami Empat orang menggunakan dua kendaraan, yaitu motor saya dan motor teman saya, Dalam perjalanan, kami sempat berpencar, dan saya bersama satu teman yang membawa motor saya”

Kami bersepakat untuk bertemu di Tugu Kris Kota Baru karena dua teman kami sudah sampai lebih dulu” Saat saya dan teman saya hendak menyusul, tiba-tiba kami dihentikan oleh tiga orang yang mengendarai dua motor, Mereka meminta kami berhenti dan langsung bertanya, “Ini motor

siapa? Kenal Rosnida?” Saya menjawab, “Ini motor saya, dan saya tidak tahu siapa Rosnida.”

Mereka kemudian mengatakan bahwa Rosnida memiliki tunggakan enam bulan, tetapi saya tetap menjelaskan bahwa saya tidak mengenal orang tersebut, Mereka terus bertanya nama ibu saya,dan ketika saya menjawab bahwa nama ibu saya adalah Arni, mereka berkata bahwa mereka hanya ingin memberi tahu saya karena saya berasal dari kabupaten Tebo.

Saya heran bagaimana mereka bisa tahu asal saya, dan mereka menjawab bahwa mereka melacaknya melalui ponsel, Karena saya sedang terburu-buru untuk menyelesaikan tugas kuliah dan dua teman saya sudah menunggu, mereka menawarkan solusi agar saya dan teman saya ikut ke kantor sebentar untuk mengambil surat yang akan dititipkan kepada Rosnida.

Mereka meyakinkan bahwa prosesnya hanya lima menit, jadi karena saya merasa terdesak, saya mengikuti mereka.

Saat kami dalam perjalanan, saya bertanya, “Jadi ini mau ke mana, Om?” Mereka hanya menjawab, “Ikuti saja kami.” Karena situasinya sudah mendesak dan saya juga tidak mengerti maksud mereka, saya dan teman saya yang membawa motor pun mengikuti mereka.

Satu motor, dua orang memimpin jalan di depan, sedangkan satu motor lainnya mengikuti kami dari belakang. Setelah sekitar delapan menit, kami sampai di kantor MCF MAF di Jl.Gatot Subroto Kota Jambi.

Saya memarkir motor di trotoar pinggir jalan, tetapi mereka meminta saya menaikkannya ke teras kantor dengan alasan agar tidak menghalangi parkir mobil,” lalu Teman saya pun memindahkan motor ke teras, kemudian masuk ke dalam kantor dan diminta menunggu sebentar.

Tidak lama kemudian, salah satu orang yang membawa kami ke sana mendatangi saya dan meminta STNK motor.

Karena STNK tidak ada pada saya, saya menjawab bahwa STNK ada di ibu saya” Dia kemudian meminta KTP saya sebagai gantinya,” Saat saya hendak mengambil KTP dari dompet, dia tetap bersikeras menanyakan apakah benar STNK tidak ada di dalam dompet saya” Saya menunjukkan isi dompet saya untuk membuktikan bahwa memang tidak ada STNK di dalamnya.

Setelah melihat isi dompet saya, dia akhirnya mengambil KTP saya dan membawanya ke dalam ruangan.

Tidak lama kemudian, orang tersebut kembali dan memanggil saya masuk ke ruangan untuk bertemu dengan “bos.” Saya masuk bersama teman saya dan melihat bos tersebut duduk bersama, beberapa orang lainnya, sekitar empat hingga lima laki-laki. Mereka menyuruh saya duduk” tetapi bos tersebut awalnya tidak berbicara apa pun, membuat saya kebingungan.

Salah satu dari mereka kemudian berkata bahwa saya hanya perlu mengurus surat agar bisa diberikan kepada Rosnida.

Saya percaya saja dengan perkataan mereka., Tidak lama setelah itu,orang yang membawa saya masuk ke ruangan kembali mendatangi saya dan berkata, “Dek, boleh Om pinjam sebentar kunci motornya? Soalnya ini pakai kode kunci untuk membukanya.” Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kode kunci, tetapi karena saya benar-benar terburu-buru dan Panik, dengan tugas kuliah, saya memberikan saja kunci motor saya.

Tidak lama setelah saya memberikan kunci, seseorang datang membawa selembar kertas dan seorang lainnya mengambil foto KTP saya.

Orang yang membawa kertas meletakkannya di meja dan meminta saya menuliskan nomor telepon saya, tanpa memberi saya kesempatan membaca isi kertasnya.

Karena ingin cepat selesai, saya menuliskan nomor telepon saya. Kemudian, dia meminta saya menandatangani kertas tersebut tanpa membaca isinya Seakan Saya Anggap mereka dengan cara Lembah Lembut, Memaksa Saat Saya dalam keadaan Panik, dengan iming-iming bahwa ini hanya untuk mempercepat proses.

Saya pun menandatangani surat tersebut, Tidak lama setelah itu, ibu saya yang berada di kabupaten Tebo menelepon dan berkata, “Adek, kalau orangnya minta kunci, jangan dikasih!” Namun, karena saya sudah terlanjur menyerahkan kunci motor, saya menjadi bingung.

Ibu saya kemudian berkata bahwa jika kunci sudah diberikan, maka motor saya tidak akan dikembalikan oleh mereka.

Saat itu, saya baru menyadari bahwa sejak awal saya sudah ditipu, Saya bertanya kepada ibu saya, “Jadi bagaimana ini?” Ibu saya menjawab, “Tunggu di situ, jangan pergi dulu. Mamak sudah suruh Om datang ke sana.” Setelah itu, saya langsung berbicara dengan bos yang ada di ruangan tadi dan berkata, “Pak, saya tidak mengerti maksudnya apa, jadi tunggu Om saya datang dulu ke sini.” Namun, bos tersebut menjawab, “Mau ngapain Om kamu datang ke sini? Tidak bisa ngapa-ngapain juga.” Saya tetap bersikeras, “Kalau begitu, bapak saja langsung bicara dengan ibu saya.” Saya mencoba memberikan ponsel saya kepada bos tersebut, tetapi dia menolak berbicara dengan ibu saya dan malah menyuruh anak buahnya untuk menjawab telepon.

Saya tidak tahu apa yang dibicarakan antara mereka dengan ibu saya. Setelah telepon ditutup, barulah bos tersebut mulai menjelaskan tentang tunggakan atas nama Rosnida.

Namun, karena saya memang tidak mengenal Rosnida dan tetap tidak memahami situasi ini, saya kembali berkata, “Pak, lebih baik tunggu Om saya datang dulu ke sini.

Saya benar-benar tidak tahu apa-apa, tiba-tiba saya diberhentikan di tengah jalan, dibawa ke sini tanpa tujuan yang jelas, dan motor saya diambil.” Bos tersebut malah bertanya, “Om kamu kerja apa?” Saya menjawab bahwa saya tidak tahu. Dia merespons, “Masa tidak tahu pekerjaan Om sendiri?” Saya tetap mengatakan bahwa saya memang tidak tahu Akhirnya, dia berkata, “Ya sudah, percuma juga Om kamu mau ke sini, Tidak bisa ngapa ngapain juga, Kami masih ada urusan lain, jadi percuma.”

Setelah itu, mereka menyuruh saya dan teman saya keluar dari ruangan.

Ketika saya keluar, saya melihat kantor sudah mulai ditutup,dan motor saya tidak lagi ada di depan.

Yang tersisa hanyalah helm saya dan teman saya di lantai depan kantor.

Karena Om saya belum juga tiba, saya akhirnya keluar dari kantor dan menunggunya.

Namun, saat Om saya akhirnya sampai, mereka semua sudah tidak ada lagi di kantor, dan motor saya udah nga ada lagi didepan kantor tersebut, Kemudian Saya Menelpon, Pak Aswan Direktur PT. Media Gempar Sumatera Indonesia., Meminta Publikasi Keluhan saya Ke Seluruh Wilayah Indonesia, Agar Kolektor Itu Segera Di Temukan dan di Tindak Tegas Oleh Pihak yang Berwajib. (Redaksi)

 

 

 

BACA JUGA  Kepsek SMPN 5 Bungo Dan Wartawati Selvi Juga Joinsyah Sitorus Berdamai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *